Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Resensi buku Islam.

Resensi buku Islam.
Indahnya Berbisnis dengan Tuhan. Buku ini akan menemani Anda menuju apa yang Anda inginkan. Diangkat dari kisah nyata yang sangat istimewa. Terdiri dari 10 bagian kisah yang unik dan 296 halaman. Di dalamnya dikisahkan tentang suka duka dan tips sukses perjalanan takdir seorang pemulung yang menjadi miliyarder dalam tiga tahun. Kisah cinta dan perjuangan mantan ketua Mafia yang sukses berbisnis dengan Tuhan .Temukan jurus jitu kaya dan bahagia dunia akhirat!.Penulis :Ust.Ayi Muzayini, E.Kosasih (Mantan Kuli Panggul Singkong /Anak Panti Asuhan).Pengantar Dr.H.M.Hidayat Nur Wahid,MA(Ketua MPR RI).Pesan segera! Persediaan terbatas.

7 Langkah Sukses

7 Langkah Sukses

Ada 7 langkah yang anda dapat lakukan untuk menjadi sukses
1. Seriuslah terhadap masa depan anda. Buatlah keputusan sekarang ! Bahwa anda dapat mencapai kesuksesan anda dan tuliskan apa saja yang akan/ingin anda dapatkan pada saat anda meraihnya. Lakukan sesuatu mulai sekarang. Bila anda tidak melakukan berarti anda tidak serius terhadap kesuksesan anda
2.Kenalilah kelemahan anda. Anda harus bisa mengenali hal hal apa saja yang dapat membuat anda selalu kembali pada masa lalu anda yang penuh kegagalan. Apa saja yang perlu anda lakukan/perbaiki agar anda bisa mencapai kesuksesan.
3. Carilah lingkungan yang positif. Berkumpul dengan orang orang yang penuh dengan cita cita dan target dalam hidupnya akan membuat anda bersemangat dan ikut merasakan keyakinan mereka dan akan menular pada keyakinan anda sendiri. Anda tidak akan menjadi seekor elang apabila anda selalu berkumpul dengan sekelompok ayam.
4. Peliharalah kesehatan anda. Istirahat yang cukup, berolah raga dan mengkonsumsi bahan makanan tambahan yang dibutuhkan oleh tubuh anda sebagai orang yang aktif.
5. Visualisasi Positif. Kesuksesan dimulai dengan bagaimana anda melihat diri anda. Bila anda selalu melihat diri anda menjadi seorang yang sukses maka alam bawa sadar anda akan membawa anda kearah sana.
6. Positif “Self Talk”. Teruslah berbicara pada diri sendiri secara positif. Kontrollah segala pembicaraan anda dengan diri anda sendiri. Pilih kata yang positif. Anda tidak akan pernah sukses apabila anda melihat diri anda sebagai pecundang dan selalu berbicara pada diri sendiri bahwa anda tidak bisa. Apabila anda ragu terhadap diri anda, bagaimana orang lain akan percaya pada anda.
7. Lakukan tindakan yang positif. Lakukan dengan cepat. Lebih cepat lebih baik. semakin anda lebih baik, maka anda akan mendapatkan hal hal yang lebih baik. Hal hal baik tersebut akan membuat anda semakin mencintai diri anda sendiri. Semakin anda mencintai diri sendiri maka keyakinan anda terhadap diri anda sendiri semakin baik juga. Bila keyakinan anda semakin tinggi maka anda akan semakin disiplin. Kedisiplinan anda akan membuat anda maju terus apapun tantangannya. Anda tidak akan bisa dihentikan oleh siapapun untuk mencapai kesuksesan anda. Inspirasi oleh Brian Tracy
Baca lebih lengkap, lebih seru dan lebih istimewa tentang Bisnis luar biasa, yang pasti untung dan tidak akan pernah rugi, dalam buku ”Indahnya Berbisnis dengan Tuhan”, seri satu (Life Management Series 1) karya Ust. Ayi Muzayini E.K, dengan pengantar DR. Hidayat Nur Wahid,MA. Penerbit Fatihah Publishing, Buku ini akan menemani Anda menuju apa yang Anda inginkan. Diangkat dari kisah nyata yang sangat istimewa dan penuh haru. Terdiri dari 10 bagian kisah yang unik dan penuh inspiratif. Tebal 296 halaman dengan harga konsumen Rp.58.000 (sudah termasuk ongkos kirim). Harga distributor Rp.30.000,- (minimal pengambilan 60 buku). Segera pesan, persediaan terbatas.

Pemesanan, masukan dan tanggapan dapat dikirim ke Jl.Pesantren No 55A 03/05 Kreo Selatan Larangan Tangerang 15156. HP 0813.8244.2222 Telp. (021)-68.99.23.24 – 7388.41.52 Fax (021)-585.45.01 Email : ayi.okey@gmail.com http://www.ayi-ibet.blogspot.com

7 Langkah Sukses

7 Langkah Sukses

Ada 7 langkah yang anda dapat lakukan untuk menjadi sukses
1. Seriuslah terhadap masa depan anda. Buatlah keputusan sekarang ! Bahwa anda dapat mencapai kesuksesan anda dan tuliskan apa saja yang akan/ingin anda dapatkan pada saat anda meraihnya. Lakukan sesuatu mulai sekarang. Bila anda tidak melakukan berarti anda tidak serius terhadap kesuksesan anda
2.Kenalilah kelemahan anda. Anda harus bisa mengenali hal hal apa saja yang dapat membuat anda selalu kembali pada masa lalu anda yang penuh kegagalan. Apa saja yang perlu anda lakukan/perbaiki agar anda bisa mencapai kesuksesan.
3. Carilah lingkungan yang positif. Berkumpul dengan orang orang yang penuh dengan cita cita dan target dalam hidupnya akan membuat anda bersemangat dan ikut merasakan keyakinan mereka dan akan menular pada keyakinan anda sendiri. Anda tidak akan menjadi seekor elang apabila anda selalu berkumpul dengan sekelompok ayam.
4. Peliharalah kesehatan anda. Istirahat yang cukup, berolah raga dan mengkonsumsi bahan makanan tambahan yang dibutuhkan oleh tubuh anda sebagai orang yang aktif.
5. Visualisasi Positif. Kesuksesan dimulai dengan bagaimana anda melihat diri anda. Bila anda selalu melihat diri anda menjadi seorang yang sukses maka alam bawa sadar anda akan membawa anda kearah sana.
6. Positif “Self Talk”. Teruslah berbicara pada diri sendiri secara positif. Kontrollah segala pembicaraan anda dengan diri anda sendiri. Pilih kata yang positif. Anda tidak akan pernah sukses apabila anda melihat diri anda sebagai pecundang dan selalu berbicara pada diri sendiri bahwa anda tidak bisa. Apabila anda ragu terhadap diri anda, bagaimana orang lain akan percaya pada anda.
7. Lakukan tindakan yang positif. Lakukan dengan cepat. Lebih cepat lebih baik. semakin anda lebih baik, maka anda akan mendapatkan hal hal yang lebih baik. Hal hal baik tersebut akan membuat anda semakin mencintai diri anda sendiri. Semakin anda mencintai diri sendiri maka keyakinan anda terhadap diri anda sendiri semakin baik juga. Bila keyakinan anda semakin tinggi maka anda akan semakin disiplin. Kedisiplinan anda akan membuat anda maju terus apapun tantangannya. Anda tidak akan bisa dihentikan oleh siapapun untuk mencapai kesuksesan anda. Inspirasi oleh Brian Tracy
Baca lebih lengkap, lebih seru dan lebih istimewa tentang Bisnis luar biasa, yang pasti untung dan tidak akan pernah rugi, dalam buku ”Indahnya Berbisnis dengan Tuhan”, seri satu (Life Management Series 1) karya Ust. Ayi Muzayini E.K, dengan pengantar DR. Hidayat Nur Wahid,MA. Penerbit Fatihah Publishing, Buku ini akan menemani Anda menuju apa yang Anda inginkan. Diangkat dari kisah nyata yang sangat istimewa dan penuh haru. Terdiri dari 10 bagian kisah yang unik dan penuh inspiratif. Tebal 296 halaman dengan harga konsumen Rp.58.000 (sudah termasuk ongkos kirim). Harga distributor Rp.30.000,- (minimal pengambilan 60 buku). Segera pesan, persediaan terbatas.

Pemesanan, masukan dan tanggapan dapat dikirim ke Jl.Pesantren No 55A 03/05 Kreo Selatan Larangan Tangerang 15156. HP 0813.8244.2222 Telp. (021)-68.99.23.24 – 7388.41.52 Fax (021)-585.45.01 Email : ayi.okey@gmail.com http://www.ayi-ibet.blogspot.com

Semangat Bisnis Dalam Islam

Semangat Bisnis Dalam Islam Oleh: Achmad Jainuri

Ada beberapa hal yang perlu ditegaskan dalam persoalan hubungan antara Islam dan aktifitas bisnis, pertama, secara normatif Islam memberikan sumber dasar nilai ajaran yang jelas seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun al-Sunnah. Kedua, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa Islam lahir di tengah-tengah masyarakat dagang Mekah abad ke-tujuh masehi.

Nilai-nilai dasar normatif dan historis telah membentuk prilaku bisnis setiap individu Muslim, yang dalam sejarah klasik Islam kelompok ini merupakan komunitas yang berpengaruh dalam kehidupan kekaisaran Islam. Banyak dari kalangan mereka ini menjadi mediator yang menghubungkan antara penguasa dengan masyarakat, dan yang kemudian menduduki jabatan penting dalam pemerintahan. Tradisi Islam dalam perdagangan bertahan hingga era modern Islam. Kaum pedagang Muslim memiliki peran yang sangat penting dalam penyebaran Islam ke luar jazirah Arabia dan yang di beberapa kawasan, terutama Asia Tenggara, menjadi agen perubahan ketika modernisasi merambah dunia Muslim.

Landasan normatif. Hubungan antara Islam dan bisnis memiliki landasan kuat dalam sumber nilai ajaran Islam. Hal ini tersebut dalam Al-Qur’an surat Al-Jum’ah (62:9-11), Al-Baqarah (2:198), An-Nisa’ (4:29), Al-Mutaffifin (83:9-11), dan Hadis: Orang Mukmin yang kuat (secara ekonomi) itu lebih baik dan disukai oleh Allah dari orang Mukmin yang lemah (ekonomi).

Pengalaman Historis. Islam lahir di tengah-tengah masyarakat bisnis Mekah abad ke-7 (watt, 1956, 1962 dan Crone, 1987). Hampir semua penulis setuju, meskipun berbeda pendapat tentang status peningkatannya, lokal atau internasional, bahwa masyarakat di mana Islam lahir, yakni masyarakat Mekah, adalah masyarakat pedagang. Warga Mekah, yang keturunan Quraysh, mengembangkan modal mereka. Ketika hubungan perdagangan dengan negara sekitar terjadi, yang menjadikan Mekah sebagai kota transit perdagangan yang memperoleh keuntungan besar, dalam beberapa hal kaum Muslim setuju menerima sistem pembayaran yang telah berlaku di negara-negara tersebut.

Nabi dan para sahabat adalah para pedagang ulet. Bani Hashim, asal keluarga Nabi Muhammad, selain menempati posisi sebagai penjaga tempat suci Mekah juga merupakan keluarga dagang yang memiliki jaringan perdagangan, terutama, di daerah Syam (Syria). Untuk mengamankan alur perdagangan, keluarga Hashim melakukan perjanjian pengamanan dengan para suku Badui sepanjang rute perdagangan dengan imbalan bagi keuntungan. Tradisi dagang masyarakat Mekah yang turun temurun menyebabkan bahwa kelompok awal yang masuk Islam tidak hanya dari kalangan kelas sosial rendah, seperti Bilal, tetapi juga kalangan menengah seperti Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Khadijah, dan lainnya.

Tradisi bisnis juga terlihat dalam komunitas sufi. Sebagian orang mengasumsikan bahwa kaum sufi sebagai komunitas yang jauh dari kehidupan keduniawian dan yang secara sosial digambarkan sebagai orang yang tidak memiliki harta benda. Tetapi kenyataannya, banyak data menyebutkan bahwa mereka ini adalah para pelaku bisnis yang ulet. Pada abad ke-13 dan seterusnya mereka membawa Islam ke luar Jazirah Arabia. Jika sebagian sumber sejarah menyimpulkan bahwa masuknya Islam ke Nusantara adalah melalui jasa Saudagar Gujarat, maka sesungguhnya mereka ini adalah kaum sufi. Yang membedakan dengan kaum pedagang pada umumnya adalah terletak pada sikap mereka terhadap harta benda yang dimilikinya. Kaum sufi memandang harta sebagai milik Allah dan karena itu penggunaannya adalah untuk menegakkan kalimatullah. Mereka memiliki uang, tetapi tidak untuk hal-hal yang konsumtif, apalagi bermewah. Kecenderungan inilah yang membedakan dengan kelompok pedagang lainnya. Jadi, baik normatif maupun pengalaman histories menunjukkan bahwa ada hubungan antara Islam dan perdagangan. Karena itu Geertz menegaskan, dalam teori ”mesjid-pasar,” ada hubungan fungsional antara mesjid sebagai simbol Islam dan pasar sebagai simbol aktifitas ekonomi.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana nilai-nilai Islam bisa mewarnai prilaku bisnis setiap individu Muslim. Jika setiap pelaku bisnis mendasarkan pada etika Islam, maka keuntungan yang diperoleh dari setiap transaksi bisnis tidak hanya baik dan bermanfaat secara materi bagi diri pelaku bisnis tetapi juga baik dan diridhai oleh Allah, yang pada akhirnya harta yang diperoleh dari usaha ini membawa barokah bagi diri dan keluarga yang dihidupinya. Oleh karena itu ada prinsip-prinsip yang perlu ditanamkan: Pertama, perlunya ditumbuhkan kesadaran bahwa bisnis selalu berkaitan dengan aktifitas dan aspek lain dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu bisnis bukan sekedar transfer barang atau jasa dari satu orang ke orang lain, tetapi juga berkaitan dengan pelepasan hak kepemilikan, dengan apa, kapan, bagaimana, dan mengapa hak milik itu dilepaskan. Aktifitas ini pada akhirnya menuntut adanya aturan dan norma sebagai pedoman yang mengikat untuk dilaksanakan. Kedua, bisnis merupakan salah satu cara memiliki karunia Allah dan cara mendistribusikan karunia-Nya kepada hamba-Nya. Ketiga, prinsip-prinsip niilai ilahiyah seperti keadilan, kebenaran, kejujuran, kejelasan, kemanan, kesabaran, dan keikhlasan menjadi penting dalam bertransaksi dan akibat yang ditimbulkan setelah transaksi dilakukan. Sumber: Suara Muhammadiyah No.08/Th. Ke-92

Baca lebih lengkap, lebih seru dan lebih istimewa tentang Bisnis luar biasa dalam buku ”Indahnya Berbisnis dengan Tuhan”, seri satu (Life Management Series 1) karya Ust. Ayi Muzayini E.K, dengan pengantar DR. Hidayat Nur Wahid,MA. Penerbit Fatihah Publishing, Buku ini akan menemani Anda menuju apa yang Anda inginkan. Diangkat dari kisah nyata yang sangat istimewa dan penuh haru. Terdiri dari 10 bagian kisah yang unik dan penuh inspiratif. Tebal 296 halaman dengan harga konsumen Rp.58.000 (sudah termasuk ongkos kirim). Harga distributor Rp.30.000,- (minimal pengambilan 60 buku). Segera pesan, persediaan terbatas.

Pemesanan, masukan dan tanggapan dapat dikirim ke Jl.Pesantren No 55A 03/05 Kreo Selatan Larangan Tangerang 15156. HP 0813.8244.2222 Telp. (021)-68.99.23.24 – 7388.41.52 Fax (021)-585.45.01 Email : ayi.okey@gmail.com http://www.ayi-ibet.blogspot.com

Islam & Ekonomi

Islam & Ekonomi

Pendahuluan
Prinsip-prinsip Ekonomi
Adakah Ekonomi Islam?
Konsep Ekonomi Islam
Dasar-dasar Ekonomi Islam
Ekonomi Islam dan Tantangan Kapitalisme
Krisis Ekonomi: Agenda Penyelesaian Ekonom Muslim
Kesimpulan

Pendahuluan
Krisis moneter melanda di mana-mana, tak terkecuali di negeri kita tercinta ini. Para ekonom dunia sibuk mencari sebab-sebabnya dan berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan perekonomian di negaranya masing-masing. Krisis ekonomi telah menimbulkan banyak kerugian, meningkatnya pengangguran, meningkatnya tindak kejahatan dan sebagainya.
Sistem ekonomi kapitalis dengan sistem bunganya diduga sebagai penyebab terjadinya krisis. Sistem ekonomi Islam mulai dilirik sebagai suatu pilihan alternatif, dan diharapkan mampu menjawab tantangan dunia di masa yang akan datang.
Al-Qur’an telah memberikan beberapa contoh tegas mengenai masalah-masalah ekonomi yang menekankan bahwa ekonomi adalah salah satu bidang perhatian Islam. “(Ingatlah) ketika Syu’aib berkata kepada mereka (penduduk Aikah): ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa?’ Sesungguhnya aku adalah seorang rasul yang telah mendapatkan kepercayaan untukmu. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan ta’atilah aku. Aku sama sekali tidak menuntut upah darimu untuk ajakan ini, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Penguasa seluruh alam. Tepatilah ketika kamu menakar dan jangan sampai kamu menjadi orang-orang yang merugi. Timbanglah dengan timbangan yang tepat. Jangan kamu rugikan hak-hak orang (lain) dan janganlah berbuat jahat dan menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Qs.26:177-183)

Prinsip-prinsip Ekonomi
Ilmu ekonomi lahir sebagai sebuah disiplin ilmiah setelah berpisahnya aktifitas produksi dan konsumsi. Ekonomi merupakan aktifitas yang boleh dikatakan sama halnya dengan keberadaan manusia di muka bumi ini, sehingga kemudian timbul motif ekonomi, yaitu keinginan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Prinsip ekonomi adalah langkah yang dilakukan manusia dalam memenuhi kebutuhannya dengan pengorbanan tertentu untuk memperoleh hasil yang maksimal. Sedangkan sistem ekonomi ada berbagai macam, di antaranya:
Sistem Ekonomi Kapitalis
Prinsip ekonomi kapitalis adalah:
– Kebebasan memiliki harta secara persendirian.
– Kebebasan ekonomi dan persaingan bebas.
– Ketidaksamaan ekonomi.
Sistem Ekonomi Komunis
Prinsip ekonomi komunis adalah:
– Hak milik atas alat-alat produksi oleh negara.
– Proses ekonomi berjalan atas dasar rencana yang telah dibuat.
– Perencanaan ekonomi sebagai rencana / dalam proses ekonomi yang harus dilalui.
Sistem Ekonomi Sosialis
Prinsip ekonomi sosialis adalah:
– Hak milik atas alat-alat produksi oleh koperasi-koperasi serikat pekerja, badan hukum dan masyarakat yang lain. Pemerintah menguasai alat-alat produk yang vital.
– Proses ekonomi berjalan atas dasar mekanisme pasar.
– Perencanaan ekonomi sebagai pengaruh dan pendorong dengan usaha menyesuaikan kebutuhan individual dengan kebutuhan masyarakat.
Indonesia memiliki sistem ekonomi sendiri, yaitu sistem demokrasi ekonomi, yang prinsip-prinsip dasarnya tercantum dalam UUD’45 pasal 33.

Adakah Ekonomi Islam?
Sistem kapitalis yang saat ini banyak dipergunakan telah menunjukkan kegagalan dengan mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi. Sistem ekonomi Islam sebagai pilihan alternatif mulai digali untuk diterapkan sebagai sistem perekonomian yang baru. Bagaimanakah sistem ekonomi Islam itu? Sistem ekonomi Islam mempunyai perbedaan yang mendasar dengan sistem ekonomi yang lain, dimana dalam sistem ekonomi Islam terdapat nilai moral dan nilai ibadah dalam setiap kegiatannya.
Prinsip ekonomi Islam adalah:
– Kebebasan individu.
– Hak terhadap harta.
– Ketidaksamaan ekonomi dalam batasan.
– Kesamaan sosial.
– Keselamatan sosial.
– Larangan menumpuk kekayaan.
– Larangan terhadap institusi anti-sosial.
– Kebajikan individu dalam masyarakat.

Konsep Ekonomi Islam
Islam mengambil suatu kaidah terbaik antara kedua pandangan yang ekstrim (kapitalis dan komunis) dan mencoba untuk membentuk keseimbangan di antara keduanya (kebendaan dan rohaniah). Keberhasilan sistem ekonomi Islam tergantung kepada sejauh mana penyesuaian yang dapat dilakukan di antara keperluan kebendaan dan keperluan rohani / etika yang diperlukan manusia. Sumber pedoman ekonomi Islam adalah al-Qur’an dan sunnah Rasul, yaitu dalam:
– Qs.al-Ahzab:72 (Manusia sebagai makhluk pengemban amanat Allah).
– Qs.Hud:61 (Untuk memakmurkan kehidupan di bumi).
– Qs.al-Baqarah:30 (Tentang kedudukan terhormat sebagai khalifah Allah di bumi).
Hal-hal yang tidak secara jelas diatur dalam kedua sumber ajaran Islam tersebut diperoleh ketentuannya dengan jalan ijtihad.

Dasar-dasar Ekonomi Islam:
Dasar-dasar ekonomi Islam adalah:
1) Bertujuan untuk mencapai masyarakat yang sejahtera baik di dunia dan di akhirat, tercapainya pemuasan optimal berbagai kebutuhan baik jasmani maupun rohani secara seimbang, baik perorangan maupun masyarakat. Dan untuk itu alat pemuas dicapai secara optimal dengan pengorbanan tanpa pemborosan dan kelestarian alam tetap terjaga.
2) Hak milik relatif perorangan diakui sebagai usaha dan kerja secara halal dan dipergunakan untuk hal-hal yang halal pula.
3) Dilarang menimbun harta benda dan menjadikannya terlentar.
4) Dalam harta benda itu terdapat hak untuk orang miskin yang selalu meminta, oleh karena itu harus dinafkahkan sehingga dicapai pembagian rizki.
5) Pada batas tertentu, hak milik relatif tersebut dikenakan zakat.
6) Perniagaan diperkenankan, akan tetapi riba dilarang.
7) Tiada perbedaan suku dan keturunan dalam bekerja sama dan yang menjadi ukuran perbedaan adalah prestasi kerja.

Kemudian landasan nilai yang menjadi tumpuan tegaknya sistem ekonomi Islam adalah sebagai berikut:
Nilai dasar sistem ekonomi Islam:
1) Hakikat pemilikan adalah kemanfaatan, bukan penguasaan.
2) Keseimbangan ragam aspek dalam diri manusia.
3) Keadilan antar sesama manusia.
Nilai instrumental sistem ekonomi Islam:
1) Kewajiban zakat.
2) Larangan riba.
3) Kerjasama ekonomi.
4) Jaminan sosial.
5) Peranan negara.
Nilai filosofis sistem ekonomi Islam:
1) Sistem ekonomi Islam bersifat terikat yakni nilai.
2) Sistem ekonomi Islam bersifat dinamik, dalam arti penelitian dan pengembangannya berlangsung terus-menerus.
Nilai normatif sistem ekonomi Islam:
1) Landasan aqidah.
2) Landasan akhlaq.
3) Landasan syari’ah.
4) Al-Qur’anul Karim.
5) Ijtihad (Ra’yu), meliputi qiyas, masalah mursalah, istihsan, istishab, dan urf.

Ekonomi Islam dan Tantangan Kapitalisme
Perbedaan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi yang lain adalah:

* Asumsi dasar / norma pokok maupun aturan main dalam proses ataupun interaksi kegiatan ekonomi yang diberlakukan. Dalam sistem ekonomi Islam asumsi dasarnya adalah syari’ah Islam, diberlakukan secara menyeluruh baik terhadap individu, keluarga, kelompok masyarakat, usahawan maupun penguasa/pemerintah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik untuk keperluan jasmaniah maupun rohaniah.
* Prinsip ekonomi Islam adalah penerapan asas efisiensi dan manfaat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan alam.
* Motif ekonomi Islam adalah mencari keberuntungan di dunia dan di akhirat selaku khalifatullah dengan jalan beribadah dalam arti yang luas.

Berbicara tentang sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi kapitalis tidak bisa dilepaskan dari perbedaan pendapat mengenai halal-haramnya bunga yang oleh sebagian ulama dianggap sebagai riba yang diharamkan oleh al-Qur’an.
Manfaat uang dalam berbagai fungsi baik sebagai alat penukar, alat penyimpan kekayaan dan pendukung peralihan dari sistem barter ke sistem perekonomian uang, oleh para penulis Islam telah diakui, tetapi riba mereka sepakati sebagai konsep yang harus dihindari dalam perekonomian.
Sistem bunga dalam perbankan (rente stelsel) mulai diyakini oleh sebagian ahli sebagai faktor yang mengakibatkan semakin buruknya situasi perekonomian dan sistem bunga sebagai faktor penggerak investasi dan tabungan dalam perekonomian Indonesia, sudah teruji bukan satu-satunya cara terbaik mengatasi lemahnya ekonomi rakyat.
Larangan riba dalam Islam bertujuan membina suatu bangunan ekonomi yang menetapkan bahwa modal itu tidak dapat bekerja dengan sendirinya, dan tidak ada keuntungan bagi modal tanpa kerja dan tanpa penempatan diri pada resiko sama sekali. Karena itu Islam secara tegas menyatakan perang terhadap riba dan ummat Islam wajib meninggalkannya (Qs.al-Baqarah:278), akan tetapi Islam menghalalkan mencari keuntungan lewat perniagaan (Qs.83:1-6)

Krisis Ekonomi: Agenda Penyelesaian Ekonom Muslim
Krisis ekonomi disebabkan oleh berbagai macam hal, antara lain:
– Menurunnya kualitas moral/mental, bisa dikatakan sebagai faktor yang paling penting.
– Keadilan yang tidak merata (kolusi).
– Tidak adanya keterbukaan/transparansi oleh pemerintah dalam berbagai hal.
– Merebaknya sistem perekonomian yang menggunakan sistem riba.
Di samping hal-hal tersebut di atas, masih banyak faktor lain yang mendorong terjadinya krisis ekonomi, misalnya suasana politik yang tidak stabil, persaingan yang tidak sehat, krisis kepercayaan, dan ada satu hal yang saat ini sedang banyak dibicarakan oleh para ekonom, yaitu bahwa sistem ekonomi yang ada sudah tidak sesuai lagi untuk diterapkan, sehingga adanya suatu sistem perekonomian dengan formula yang baru.
Adapun konsep pelaksanaan kegiatan ekonom Muslim dalam mengatasi krisis (terutama yang terjadi di Indonesia), secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Pendidikan moral/mental mutlak harus ditingkatkan, baik dari tingkat orang-per-orang, rumah tangga, masyarakat, maupun negara. Dan nuansa moral inipun harus dapat selalu didengungkan dalam setiap kegiatan baik dalam berpolitik, berekonomi, berbudaya, dan lain sebagainya.
2. Keadilan yang merata meliputi berbagai bidang, di antaranya: Pemerataan peningkatan sumber daya manusia, pemerataan keadilan dalam pelaksanaan hukum, dalam arti bahwa setiap pelanggar harus mendapatkan sanksi yang tegas.
3. Adanya transparansi/keterbukaan dalam setiap kegiatan yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara.
4. Melacak sumber yang menyebabkan krisis (tegantung krisis apa).
5. Menerapkan sistem ekonomi Islam dan menghapus praktek pembungaan uang.

(Pendapat Dumairy, MA – dosen dan pengamat ekonomi Islam – 1998)

Kesimpulan
Perekonomian sebagai salah satu sendi kehidupan yang penting bagi manusia, oleh al-Qur’an telah diatur sedemikian rupa. Riba secara tegas telah dilarang karena merupakan salah satu sumber labilitas perekonomian dunia. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai orang yang tidak dapat berdiri tegak melainkan secara limbung bagai orang yang kemasukan syaithan.
Hal terpenting dari semua itu adalah bahwa kita harus dapat mengembalikan fungsi asli uang yaitu sebagai alat tukar / jual-beli. Memperlakukan uang sebagai komoditi dengan cara memungut bunga adalah sebuah dosa besar, dan orang-orang yang tetap mengambil riba setelah tiba larangan Allah, diancam akan dimasukkan ke neraka (Qs.al-Baqarah:275). Berdirinya Bank Muamalat Indonesia merupakan salah satu contoh tantangan untuk membuktikan suatu pendapat bahwa konsepsi Islam dalam bidang moneter dapat menjadi konsep alternatif.

Daftar Pustaka:
1. M.Rusli Karim (Editor), Berbagai Aspek Ekonomi Islam, P3EI UII Yogyakarta, PT.Tiara Wacana, YK-1992.
2. Thahir Abdul Muhsin Sulaiman, Menanggulangi Krisis Ekonomi Secara Islam, Terjemahan Ansori Umar Sitanggal, Al-Ma’arif Bandung-1985.
3. Lembar Jum’at Al-Miqyas – Edisi 71: Suku Bunga Tinggi atau Rendah Sama Saja, Forum Studi Al-Ummah, YK-1996.
4. Afzal-Ur-Rahman, Doktrin Ekonomi Islam.
5. Sayid Sabiq, Unsur Dinamika Islam.
6. Dr.Budiono, Ekonomi Mikro, BPFE-UGM.

Sumber : http://members.tripod.com/~bimcrot/global/isnom.html

Metodologi Ekonomi Islam

Metodologi Ekonomi Islam Ditulis oleh Muhammad Imaduddin*

Selama ini kalau kita berbicara tentang muamalah, terutama ekonomi, kita akan berbicara tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Hal ini memang merupakan prinsip dasar dari muamalah itu sendiri, yang menyatakan: “Perhatikan apa yang dilarang, diluar itu maka boleh dikerjakan.” Tetapi pertanyaan kemudian mengemuka, seperti apakah ekonomi dalam sudut pandang Islam itu sendiri? Bagaimana filosofi dan kerangkanya? Dan bagaimanakah ekonomi Islam yang ideal itu?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka sebenarnya kita perlu melihat bagaimanakah metodologi dari ekonomi Islam itu sendiri. Muhammad Anas Zarqa (1992), menjelaskan bahwa ekonomi Islam itu terdiri dari 3 kerangka metodologi. Pertama adalah presumptions and ideas, atau yang disebut dengan ide dan prinsip dasar dari ekonomi Islam. Ide ini bersumber dari Al Qur’an, Sunnah, dan Fiqih Al Maqasid. Ide ini nantinya harus dapat diturunkan menjadi pendekatan yang ilmiah dalam membangun kerangka berpikir dari ekonomi Islam itu sendiri. Kedua adalah nature of value judgement, atau pendekatan nilai dalam Islam terhadap kondisi ekonomi yang terjadi. Pendekatan ini berkaitan dengan konsep utilitas dalam Islam. Terakhir, yang disebut dengan positive part of economics science. Bagian ini menjelaskan tentang realita ekonomi dan bagaimana konsep Islam bisa diturunkan dalam kondisi nyata dan riil. Melalui tiga pendekatan metodologi tersebut, maka ekonomi Islam dibangun.

Ahli ekonomi Islam lainnya, Masudul Alam Choudhury (1998), menjelaskan bahwa pendekatan ekonomi Islam itu perlu menggunakan shuratic process, atau pendekatan syura. Syura itu bukan demokrasi. Shuratic process adalah metodologi individual digantikan oleh sebuah konsensus para ahli dan pelaku pasar dalam menciptakan keseimbangan ekonomi dan perilaku pasar. Individualisme yang merupakan ide dasar ekonomi konvensional tidak dapat lagi bertahan, karena tidak mengindahkan adanya distribusi yang tepat, sehingga terciptalah sebuah jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin.
Pertanyaan kemudian muncul, apakah konsep Islam dalam ekonomi bisa diterapkan di suatu negara, misalnya di negara kita? Memang baru-baru ini muncul ide untuk menciptakan dual economic system di negara kita, dimana ekonomi konvensional diterapkan bersamaan dengan ekonomi Islam. Tapi mungkinkah Islam bisa diterapkan dalam kondisi ekonomi yang nyata?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, Umar Chapra (2000) menjelaskan bahwa terdapat dua aliran dalam ekonomi, yaitu aliran normatif dan positif. Aliran normatif itu selalu memandang sesuatu permasalahan dari yang seharusnya terjadi, sehingga terkesan idealis dan perfeksionis. Sedangkan aliran positif memandang permasalahan dari realita dan fakta yang terjadi. Aliran positif ini pun kemudian menghasilkan perilaku manusia yang rasional. Perilaku yang selalu melihat masalah ekonomi dari sudut pandang rasio dan nalarnya. Kedua aliran ini merupakan ekstrim diantara dua kutub yang berbeda.

Lalu apa hubungannya kedua aliran tersebut dengan pelaksanaan ekonomi Islam? Ternyata hubungannya adalah akan selalu ada orang-orang yang mempunyai pikiran dan ide yang bersumber dari dua aliran tersebut. Jadi atau tidak jadi ekonomi Islam akan diterapkan, akan ada yang menentang dan mendukungnya. Oleh karena itu sebagai orang yang optimis, maka penulis akan menyatakan ‘Ya’, Islam dapat diterapkan dalam sebuah sistem ekonomi.

Tetapi optimisme ini akan dapat terwujud manakala etika dan perilaku pasar sudah berubah. Dalam Islam etika berperan penting dalam menciptakan utilitas atau kepuasan (Tag El Din, 2005). Konsep Islam menyatakan bahwa kepuasan optimal akan tercipta manakala pihak lain sudah mencapai kepuasan atau hasil optimal yang diinginkan, yang juga diikuti dengan kepuasan yang dialami oleh kita. Islam sebenarnya memandang penting adanya distribusi, kemudian lahirlah zakat sebagai bentuk dari distribusi itu sendiri.

Maka, sesungguhnya kerangka dasar dari ekonomi Islam didasari oleh tiga metodolodi dari Muhammad Anas Zarqa, yang kemudian dikombinasikan dengan efektivitas distribusi zakat serta penerapan konsep shuratic process (konsensus bersama) dalam setiap pelaksanaannya. Dari kerangka tersebut, insyaAllah ekonomi Islam dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Dan semua itu harus dibungkus oleh etika dari para pelakunya serta peningkatan kualitas sumber daya manusianya (Al Harran, 1996). Utilitas yang optimal akan lahir manakala distribusi dan adanya etika yang menjadi acuan dalam berperilaku ekonomi. Oleh karena itu semangat untuk memiliki etika dan perilaku yang ihsan kini harus dikampanyekan kepada seluruh sumber daya insani dari ekonomi Islam. Agar ekonomi Islam dapat benar-benar diterapkan dalam kehidupan nyata, yang akan menciptakan keadilan sosial, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakatnya.
Wallahu ‘alamu bishowwab.Keterangan:Penulis adalah Mahasiswa S2 Islamic Banking, Finance, and Management di Markfield Institute of Higher Education (MIHE), Markfield, Leicestershire, Inggris.

Referensi: Al-Harran, Saad. (1996). Islamic Finance Need a New Paradigm. Tersedia dalam: Tanggal akses: 28 Oktober 2005.
Choudhury, Masudul Alam. (1998). Studies in Islamic Social Sciences. Great Britain: Macmillan Press Ltd.
Hafidhuddin, Didin. (2005). Prinsip Dasar Ekonomi Islam. Bahan Kuliah Mata Kuliah Ekonomi Syariah 1. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Tag El Din, Seif El Din. (2005). Moral Policy: Equity and Growth Strategy. Lecture of Islamic Economics. Markfield Institute of Higher Education.
Zarqa, Mohammad Anas. (1992). “Methodology of Islamic Economics”, dalam Ahmad, Ausaf and Awan, Kazim Raza (Ed.), Lectures on Islamic Economics (hal 50). Jeddah: Islamic Research and Training Institute, Islamic Development Bank.

Baca lebih lengkap, lebih seru dan lebih istimewa tentang Bisnis luar biasa dalam buku ”Indahnya Berbisnis dengan Tuhan”, seri satu (Life Management Series 1) karya Ust. Ayi Muzayini E.K, dengan pengantar DR. Hidayat Nur Wahid,MA. Penerbit Fatihah Publishing, Buku ini akan menemani Anda menuju apa yang Anda inginkan. Diangkat dari kisah nyata yang sangat istimewa dan penuh haru. Terdiri dari 10 bagian kisah yang unik dan penuh inspiratif. Tebal 296 halaman dengan harga konsumen Rp.58.000 (sudah termasuk ongkos kirim). Harga distributor Rp.30.000,- (minimal pengambilan 60 buku). Segera pesan, persediaan terbatas.

Pemesanan, masukan dan tanggapan dapat dikirim ke Jl.Pesantren No 55A 03/05 Kreo Selatan Larangan Tangerang 15156. HP 0813.8244.2222 Telp. (021)-68.99.23.24 – 7388.41.52 Fax (021)-585.45.01 Email : ayi.okey@gmail.com http://www.ayi-ibet.blogspot.com